2 Mei 2015

Sekolah untuk adik

Aku sedang berada pada situasi yang sama ketika aku sedang mengulang kembali membaca catatan penulis kegemaranku. saat ini, adik kecilku sedang dalam kegelisahan yang sama. ingin belajar agama langsung hingga ke kota Sang Nabi.

aku hanya bisa menyampaikan satu kata untukmu: amin :')

=====

“Adik harus tetap sekolah. Jangan berhenti sekolah hanya karena ingin mengaji jadi penghafal kitab suci”, ku dengar ayah berkata kepada adik terkecilku yang akan lulus MTs tahun ini.
Kabarnya, ada orang yang mengajak adik untuk ikut jadi penghafal Al Quran. Tapi untuk itu, dia harus berhenti sekolah selama entah kapan, mungkin sampai hafal.
“Adik tetap bisa belajar agama dan sekolah umum dengan baik. Adik anak yang pintar dan adik juga perempuan. Adik harus berpendidikan tinggi sekaligus kuat agamanya. Jangan sampai tidak seimbang,” kata ayah kepada Ibu di lain waktu.
Aku sebagai kakak hanya memerhatikan apa yang dikatakan ayah dan ibu kepada adikku yang manis itu. Adik perempuanku benar pintar, nilai di sekolahnya selalu baik.
“Ayah, kan lebih utama ilmu akhirat daripada dunia?” tanya adik sewaktu-waktu.
“Hmmm, coba bayangkan untuk mencapai Mekkah kita harus naik apa Nak?” ayah bertanya.
“Pesawat terbang yah, atau kapal tapi lama kalau naik kapal”, ujar adik.
“Untuk membuat pesawat terbang, apa yang harus adik pelajari?” tanya ayah lagi.
“Matematika, Fisika,…,” adik tidak meneruskan jawabannya.
“Nah, adik paham kan kenapa harus menguasai ilmu dunia juga selain ilmu agama?” tanya ayahnya retoris.
Aku mengerti bagaimana ayah dan ibu mendidik kami, kami harus tetap sekolah dan pendidikan agama juga tetap utama. Keduanya diajarkan kepada kami secara seimbang. Aku mengerti kenapa dulu ayah memaksaku mengaji, tapi juga memaksaku masuk ke sekolah umum.
“Nak, banyak orang yang menyesali kenapa dulu tidak rajin sekolah. Lalu sibuk mengaji dan mengurus amalan diri sendiri. Besok kamu jangan begitu, kamu harus jadi orang yang paham agama juga menguasai ilmu dunia. Agar kamu bisa melakukan jauh lebih banyak daripada yang bisa ayah dan ibu lakukan. Ilmumu harus lebih luas dan dalam. Agar kamu bisa melahirkan peradaban yang jauh lebih baik daripada yang sebelumnya. Sekolah yang rajin dan tinggi, dan belajarlahlah ilmu agama dari ahlinya, bukan dari sembarang orang.” pesan Ayah suatu sore.
“Belajar ilmu agama harus lebih hati-hati daripada ilmu dunia macam matematika dan lain-lain, sebab itu kamu harus mengerti dan menjadi orang yang pandai. Agar kamu bisa melihat kebenaran dan keburukan dengan benar,” ujar ibu.
Aku bersyukur karena tidak semua orang tua mengerti tentang ini. Hari ini, aku mengerti bahwa aku memiliki orang tua yang bijaksana. Adik mungkin belum memahami itu semua karena ia masih kecil, esok atau lusa ketika ia menjadi perempuan dewasa. Ia akan mengerti betapa pentingnya apa yang disampaikan ayah dan ibu.


Bandung, 20 Maret 2015 | ©kurniawangunadi